1. SEJARAH GIANYAR
Kota Gianyar ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar No. 9 Tahun 2004 tanggal 2 April 2004 tentang hari jadi Kota Gianyar. Sejarah dua seperempat abad lebih, tepatnya 236 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keratin, Puri Agung yaitu Istana Raja ( Anak Agung ) oleh Ida Dewa Manggis Sakti maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali.Sesungguhnya berfungsinya sebuah keratin yaitu Puri Agung Gianyar yang telah ditentukan oleh syarat sekala niskala yang jatuh pada tanggal 19 April 1771 adalah tonggak sejarah yang telah dibangun oleh raja ( Ida Anak Agung ) Gianyar I, Ida Dewata Manggis Sakti memberikan syarat kepada kita bahwa proses menjadi dan ada itu bisa ditarik kebelakang ( masa sebelumnya ) atau ditarik kedepan ( masa sesudahnya ). Berdasarkan bukti-bukti arkeologis, diwilayah Gianyar sekarang dapat diinterpretasikan bahwa munculnya komunikasi di Gianyar sejak 2000 tahun lalu karena diketemukannya situs perkakas ( artefak ) berupa batu,logam perunggu yaitu nekara ( Bulan Pejeng ) relief-relief yang menggambarkan kehidupan candi-candi atau goa-goa di tebing - tebing sungai ( tukad ) Pakerisan.
2. BUDAYA
Kabupaten Gianyar merupakan salah satu wilayah di Bali yang memiliki keaneka ragaman budaya yang menarik khususnya seni baik seni tari, tabuh,pahat maupun lukis dan kerajinan tangan yang sudah mendunia yang merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Dahulu sebelum pariwisata berkembang kegiatan seni hnya semata mata untuk upacara keagamaan dengan itikad ngayah, namun semenjak kepariwisaaan berkembang seni mulai di bisniskan untuk meladeni pariwisata, tidak hanya seni tari dan seni tabuh juga seni lukis , seni pahat yang kesemuanya memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan
3. ADMINISTRASI
Lembaga Adiministrasi yang ada di kabupaten Gianyar sebagai berikut :
- 7 Kecamatan
- 6 Kelurahan
- 63 Desa
- 541 Banjar
- 45 Lingkungan
Lembaga Adat yang ada di Kabupaten Gianyar sebagai berikut :
- 269 Desa Adat
- 517 Banjar
- 470 Sekehe Teruna/ni
- 518 Subak
4. EKONOMI
Perkembangan ekonomi Kabupaten Gianyar mengalami pasang surut sebagai dampak, baik karena ekonomi dan moneter maupun imbas tragedy WTC 1999 tumbuh sebesar 1,76 % Tahun 2000, sebesar 4,7% dan tahun 2001 mengalami penurunan menjadi 4,51 %. Terjadi tragedy Bom Bali I di Kuta dan SARS tahun 2002 ekonomi tumbuh menjadi 3,68% dan masih membawa dampak sehingga menurun menjadi 3,58% tahun 2003.
5. KAWASAN
Kabupaten Gianyar yang berbatasan dengan Denpasar, Bangli, dan Klungkung, yang berada di ketinggian 125 meter diatas permukaan laut sering ditempatkan sebagai wilayah yang menyimpan sumber inspirasi pengembangan seni budaya. Karawitan, tari, seni kriya, dan berbagai cabang seni lainnya diyakini berkembang dari wilayah Gianyar. Hal ini tak terlepas dari kedudukan wilayah Gianyar di masa lalu sebagai pusat pemerintahan kerajaan saat peralihan sebelum dan awal eraMajapahit.Kawasan Bedahulu dan Pejeng di utara Gianyar tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan sebelum jaman Majapahit sedangkan Samplangan di timur Gianyar adalah pusat pemerintahan saat awal kekuasaan Majapahit merangkul Bali. Di masa-masa penjajahan Belanda dan jaman kemerdekaan, wilayah Ubud, Peliatan, Masa, dan sekitarnya kian kuat mengarah sebagai pusat pengembangan seni budaya. Dapat dipastikan, sepanjang jaman, Gianyar amat lekat bergelut dengan seni budaya. Dengan luas wilayah meliputi 36.800 ha, dibandingkan dengan Denpasar sebagai kota dagang dengan kepadatan tinggi di pusat kota, kepadatan Gianyar justru mengarah ke daerah pinggir yang merupakan kawasan wisata terutama di daerah Kecamatan Ubud. Di sisi barat Gianyar, yang meliputi kawasan Sayan hingga ke Payangan, telah berkembang menjadi daerah hunian wisata berkelas butik hotel yang mengutamakan privasi sedangkan daerah pusat Ubud berkembang jenis pension dan homestay yang berbaur dengan penduduk asli. Daerah lain di Gianyar, yang bukan merupakan daerah hunian wisata, berkembang menjadi kawasan lain di Gianyar seolah saling dukung dan melengkapi dalam membentuk Gianyar sebagai kota budaya dan pariwisata. Kabupaten Gianyar memiliki dua kawasan wisata, yaitu Ubud dan Lebih.
Pertama, kawasan wisata Ubud Meliputi Kelurahan Ubud, Melinggih KajaMelingkih Kelod, Kedewatan, Peliatan, Mas, Petulu, Lodtunduh, Sayan, Singakerta, dan Puhu. Sebagian besar kawasan wisata ini sudah berkembang jauh, sebagian lainnya mulai tumbuh seperti terlihat dalam masuknya investor membangun kapasitas kepariwisata di daerah Melinggih Kelod dan Kaja. Dalam waktu tidak terlalu lama lagi, kawasan wisata yang baru ini akan berkembang mengikuti perkembangan Ubud, Peliatan, Mas dan sebagainya di kawasan yang sama.
Kedua, Kawasan wisata Lebih, mencakup daerah Candra Asri, Ketewel, Saba, Sukawati, Pering, Keramas, Lebih dan Siut. Dibandingkan dengan kawasan wisata pertama, tenggang waktu pengembangan kawasan ini berbeda jauh. Kalau Ubud sudah mengalami masa penemuan (discovery) tahun 1920-an dan dilanjutkan dengan masa pelembagaan (institusionalized), pengembangan Kawasan Wisata Lebih secara melembaga baru dilakukan awal tahun 1990-an. Meskipun terlambat dibandingkan yang pertama, tanda-tanda kearah pesatnya perkembangan kepariwisataan bisa terarah lebih jelas, khusus menyangkut pembangunan hotel, restoran, dan fasilitas kepariwisataan lainnya. Langkah-langkah ini jika dilihat dari kerangka teori pariwisata yang dikutipkan di depan, menunjukan bahwa tahap discovery, local repon, dan institusionalized dalam kepariwisataan Gianyar berjalan terus seperti suklus, dengan kata lain perkembangan kepariwisataan di Gianyar mengikuti pola dinamis. Posisi Gianyar sangat strategis sekali baik dilihat secara geografis maupun dari sudut pandang lalu lintas perjalanan wisata di Bali. Desa-desa kabupaten yang terkenal karena prestasi artistiknya di bidang kerajinan patung,perak, lukisan, kesenian dan sejenisnya terletak di tepi jalan utama Denpasar- Gianyar- Klungkung- Karangasem. Perjalanan dari Denpasar ke ujung timur Pulau Bali atau perjalanan yang datang dari Karangasem ke Denpasar akan melintas daerah-daerah Gianyar. Wisatawan yang datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai, akan melihat pesona desa-desa Gianyar di tepi jalan ketika mereka mengikuti trip ke arah timur, sedangkan wisatawan yang masuk ke Bali melalui pelabuhan Padangbai (biasanya wisatawan yang pergi dengan kapal pesiar atau Cruise ship mau tidak mau akan melewati desa-desa seni Gianyar dalam perjalanannya menuju Sanur, Kuta atau Nusa Dua. Setiap desa yang dilalui itu memiliki daya tarik yang khas sehingga dapat disebut sebagai potensi dan daya pikatnya).
|